Perempuan, Saling Menyakiti Tanpa Menyadari

by - Februari 10, 2018


Kalau diingat-ingat, kapan sih terakhir kali kita memuji sesama teman perempuan kita dengan tulus? Atau, kapan terakhir kali kita berpikiran positif terhadap teman perempuan kita?

...

Sebagai perempuan, rasanya wajar ya jika kita sering ngobrol bersama sesama teman perempuan, entah tentang pekerjaan, tentang rumah tangga, atau hanya sekadar berbagi info diskon Jumat-Sabtu-Minggu di supermarket-supermarket terdekat. Setidaknya, saya menikmati momen ngobrol bersama teman-teman perempuan saya. Karena, topiknya begitu beragam, luas sekali sampai-sampai terkadang kita sendiri lupa tentang topik awal yang dibicarakan. Loncat dari satu topik ke topik yang lain bisa terjadi begitu cepat hingga rasanya tak ingin berhenti mengobrol. Apalagi kalau pasangan sudah mulai menelepon, tanda bahwa obrolan harus segera berakhir, bikin tempo bicara kita super cepat dan puncaknya adalah: janjian ngobrol lain waktu!

Sejatinya, sikap perempuan yang doyan ngobrol ini lies in every woman's soul, hanya saja setiap perempuan punya cara mengeksplor "bawaan" tersebut dengan berbeda. Ada perempuan yang lebih suka mengobrol tentang hal-hal yang 'penting' kepada orang-orang yang juga penting bagi mereka. Sementara, ada pula perempuan yang suka sekali membicarakan banyak hal kepada banyak orang juga. Tapi, ada juga di antara kita, para perempuan, yang lebih suka menjadi pendengar daripada ikut-ikutan ngobrol.

Masalahnya, obrolan-obrolan para perempuan terkadang mengandung substansi yang cukup merugikan. Terkadang, kita jadi kelewatan ngomongin sesama teman perempuan kita sendiri. Kalau sudah seperti itu, rasanya kita ini manusia yang jalan hidupnya udah paling bener, deh. Judge sana, judge sini. Dilengkapi dengan bumbu-bumbu instan yang membuat obrolan makin sedap walau sebenarnya tak sehat. Kalau ditanya, 'sadar nggak sih kita ngobrol tentang hal yang negatif?' tentu jawabannya, 'sadar banget!' tapi kembali lagi, habisnya asyik sih yaaa ngobrolin orang lain. Berasa nggak ada habisnya gitu loh ngobrolin kejelekan orang lain. Belum hilang dari ingatan kenyinyiran yang kemarin, eh hari ini udah nyinyir lagi dong.

Saya sadar saya juga sering ngobrol-ngobrol nggak penting yang ujung-ujungnya bikin saya makin pinter. Iya, pinter nyari-nyari kesalahan orang lain. Tapiii, belakangan ini saya semacam mendapatkan hidayah bahwa sebenarnya apa yang saya lakukan selama ini salah *pasang bekgron musik rohani*. Dan untuk itu, saya mencurahkan segala kegundahan saya terhadap nyinyirnya sesama perempuan melalui tulisan ini. Disclaimer dulu ya, di sini saya tidak memposisikan diri sebagai yang paling benar, malah, harapan saya, kita sesama perempuan bisa saling mendukung dengan tulus dan positif tentunya, tanpa harus meninggalkan fitrah kita yang 'suka ngobrol'.

...

Jadi, saat saya menulis tulisan ini, saya sedang mengandung anak pertama. Dalam perjalanannya, saya banyak sekali mendengar komentar-komentar banyak orang tentang kehamilan saya. Awalnya, saya sangat berterima kasih karena banyak orang yang rasanya sangat peduli terhadap kehamilan saya, banyak yang memberi advice mengenai kehamilan hingga persalinan, sampai banyak juga yang memberi saya makanan gratis. Terima kasih, kawan. Namun, berangsur-angsur, komentar-komentar yang awalnya saya terima dengan positif jadi semakin terdengar negatif. Entah kenapa saya jadi gusar ketika mendengar berbagai komentar dari beberapa teman perempuan. Contohnya:
"Kamu hamil 5 bulan apa 7 bulan sih kok gede banget perutnya?"
"Untung ya dulu waktu aku hamil sehat-sehat aja dan nggak rewel,"
"Jangan gede-gede itu perut ntar lahirannya susah, loh""
"Payudaramu kok kecil? Ntar anaknya susah nenen, loh"
"Kok kamu usia kandungan 7 bulan belum keluar dikit-dikit ya ASI-nya? Dulu waktu aku hamil 5 bulan udah mulai keluar tuh!"
Dan lain sebagainya.

Listen up, girls, moms, and all women out there. First, saya hamil jadi wajar kalau perut saya besar. I have no control of how big my tummy will become during my pregnancy. Andai ada tombol pengaturannya mungkin perut saya nggak akan segede ini. Second, kondisi setiap ibu hamil berbeda,ada yang tetep giras sampai H-1 kelahiran, tapi ada juga yang dari awal hamil sudah bedrest, and again, we can't control that. We can only try our best to stay fit. For ourselves and for our babies. Third, honestly komentar tentang payudara itu stressor terberat saya. Untungnya setelah mendinginkan kepala dan banyak membaca, saya tahu bahwa nggak ada korelasi antara ukuran payudara dan jumlah ASI yang diproduksi. Saya hanya bisa berusaha mengonsumsi makanan yang juga baik untuk memperlancar produksi ASI, and stay positive. Fourth, can we just think before we say something? Kenapa? Karena ternyata komentar-komentar seperti itu yang saya percaya banyak di antara kita juga secara nggak sadar menyampaikannya, mampu membuat si penerima merasa kesal. And what can we do about that is to stop doing that. Kita, para perempuan, bisa banget kok jadi serangkaian support system yang saling berbagi hal yang positif. Oke, setidaknya bagi saya, komentar-komentar tersebut menjadi cambuk bagi saya untuk selalu berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, untuk menghindari kesalah pahaman di antara kita, para perempuan, dan juga siapapun.

Selain masalah kehamilan, cara mendidik anak, cara berpakaian, pilihan menjadi full time mom atau ibu bekerja, dan juga cara membina rumah tangga, adalah hal-hal yang seringkali tidak luput dari komentar-komentar negatif. Seakan-akan, kita para perempuan ini sedang berkompetisi, sedang sibuk menunjukkan bahwa cara kita lah yang terbaik, yang pantas ditiru, sedangkan cara orang lain tidak patut ditiru. Apalagi di dunia media sosial seperti sekarang ini, berbagai aktivitas dapat kita bagikan, begitu pula berbagai kritik, saran, komentar, bisa dengan mudah kita sampaikan. With no filter added. Orisinil, aseli dari pemikiran kita yang kadang tidak tahu menahu tentang sesuatu, tahu-tahu komentar gitu ajah. Yang seperti itu rawan banget mengandung substansi yang negatif. Dan, parahnya, kita melakukannya secara tidak sadar. Main komentar tanpa mikir dulu, tanpa research dulu, akhirnya malah membuat hubungan pertemanan jadi nggak harmonis.

Sumber: Pinterest


Wahai para perempuan, yuk kita coba sama-sama untuk bisa saling mendukung satu sama lain. Dengan nggak dikit-dikit nyinyirin orang, dengan nggak dikit-dikit komentar tanpa pikir panjang, dengan memuji teman kita, dengan berpikiran positif terhadap mereka. Kalau bisa, choose only positive words ketika akan menyampaikan sesuatu. Kita sama-sama perempuan, sama-sama ngerti kan gimana nggak enaknya menerima komentar yang negatif? Nah, try to always see through other's point of view first sebelum berani melontarkan pendapat. Karena, nggak ada yang salah kok dengan being positive. Yang ada malah bikin orang lain jadi nyaman dan syukur-syukur kalau mereka bisa terinspirasi dengan ucapan kita. Mari sadar sebelum berbagi. Agar tidak ada lagi perempuan yang merasa tersakiti tanpa kita sadari.

Cheers to all women out there,
Clara.

You May Also Like

1 komentar

  1. subhanallah ... Cara Termudah memecahkan masalah adalah dengan tidak melakukan apa2 lagi wkwkwk

    BalasHapus