Sebuah "Ya" untuk Selamanya

by - Februari 13, 2018

Satu tahun yang lalu merupakan momen berharga bagi saya. Pada 12 Februari 2017, seorang laki-laki yang begitu saya hargai, meminta saya untuk menjadi pendamping hidupnya. Tentu saja, saya berkata "Ya!". Karena, meskipun kedengarannya sungguh cliche, hanya dia seorang lah yang berhasil membuat saya merasa 'diterima'. Setelah semua yang pernah terjadi dalam hidup saya, dia satu-satunya orang yang paling mengerti dan menerima. Karena itulah, begitu saya mengenalnya dengan baik, saya langsung tahu bahwa dialah 'orangnya'.


...

Perjalanan saya dengannya terbilang tak mudah. Banyak sekali perbedaan yang harus kami rengkuh semata-mata hanya agar kami bahagia bersama-sama. Kami berbeda agama, itu kendala terbesarnya. Namun, walaupun kami menyadari ada begitu besar halangan dalam perjalanan kami, kami memilih untuk tidak putus asa dan melaluinya bersama-sama.

Saya mengenalnya ketika saya masih tercatat sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Malang. Dia merupakan salah seorang teman baik dari teman saya. Awalnya saya merasa dia sangat sombong, hingga saat pertemuan kedua, saya begitu tidak tertarik berbicara dengannya. Saat saya mengenalnya, saya masih menjalin hubungan dengan seorang pria asing yang juga tampak tulus menyayangi saya dan memiliki kepercayaan yang juga sama dengan saya. Sampai pertemuan kedua itu, saya masih percaya bahwa saya akan terus bersama dengan pria asing tersebut. Jadi, semakin tidak tertarik-lah saya berbincang dengannya.



Namun, dalam pertemuan ketiga kami, saya merasa ada yang berbeda dari laki-laki sombong ini. Ceilah. Untuk pertama kalinya, saya merasa dia tidak ada sombong-sombongnya, malah justru sangat sederhana. Saat itulah saya mulai goyah dan berpikir saya harus mengenalnya lebih dalam lagi. Ternyata benar, setelah itu kami menjadi semakin dekat dan saya dengan yakinnya memilih laki-laki-sombong-yang-ternyata-tidak-sombong ini daripada si pria asing yang seiman.

Singkat cerita, semakin hari saya merasa semakin diterima dengan baik oleh keluarganya, justru lebih baik daripada penerimaan keluarga si pria asing yang seiman. Saya berusaha selalu jujur terhadap apapun keadaan saya baik terhadap si kangmas maupun terhadap keluarganya. Saya tidak menyembunyikan apapun termasuk riwayat keluarga saya (yang bagi keluarga si pria asing justru merupakan sebuah turn off), dan keluarga si kangmas, begitupun si kangmas, justru semakin menerima dan menyayangi saya seperti bagian dari keluarganya sendiri. Sungguh kehangatan yang sudah jarang sekali saya rasakan ketika itu.

Akhirnya, setelah lebih dari satu tahun bersama, setelah melewati berbagai macam life events seperti sidang skripsi, wisuda, resign dari pekerjaan lama, mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta, lalu pindah bekerja di Surabaya, 12 Februari 2017 lalu si kangmas datang ke rumah saya untuk meminta saya menjadi pendamping hidupnya. Tentu saja saya terharu! Saya yang sempat takut bakal susah mencari pasangan karena riwayat keluarga, akhirnya dilamar oleh seseorang yang sangat tulus menyayangi saya. Begitulah, tiga bulan kemudian kami pun menikah. God is good all the time.

...

Tentang perbedaan kami, kami memiliki keyakinan bahwa semua orang diciptakan berbeda. Jadi, perbedaan yang kami miliki seharusnya bukanlah menjadi suatu penghalang bagi kehidupan kami berdua. Dan kami memutuskan untuk tetap pada keyakinan masing-masing, saling merengkuh perbedaan tersebut dan menjadikannya menjadi sebuah penghias kehidupan kami yang indah.

Saat saya menulis ini, saya sedang hamil! Time really goes so fast. Jadi, begitulah tulisan ini untuk mengenang Valentine's Day yang kami lalui tahun lalu. Tahun ini? Cukup dengan bersiap-siap menanti kehadiran buah hati kami.

Cheers,
Clara.

You May Also Like

0 komentar