Kehamilan Pertama dan Segala Tantangannya [Part 2]

by - Januari 20, 2019

Setelah dikonfirmasi oleh dokter kandungan bahwa saya positif mengandung dengan usia kehamilan 4W, saya menjadi lebih siap menjalani kehamilan pertama ini, walaupun harus dijalani secara berjauhan dengan suami.

***

Dokter bilang saya beneran hamil karena udah kelihatan kantong hamilnya. Saya senang bukan main, mulai cerewet nanyain ini itu ke dokter, dan seperti kebanyakan dokter yang menghadapi euforia kehamilan pertama pasiennya, dr. Robby Budilarto pun menjawab dengan santai segala pertanyaan yang muncul dan membuat saya merasa tenang.
"Dok, boleh nggak sih kalau saya terusin yoga?"
"Boleh. Kenapa enggak? Aktivitas yang biasa dilakukan, lakukan saja senyamannya,"
"Oh gitu ya. Kalau naik motor, gimana dok?"
"Ya kalau biasanya naik motor, tetap naik motor saja. Pokoknya kebiasaan olahraga, mobilitas, dilakukan saja seperti biasa. Kalau capek, istirahat. Itu yang penting."
"Kalau makanan gimana dok?"
"Ya kalau makanan, yang penting jangan seafood seperti kerang, dan lainnya ya. Apalagi yang dari perairan Gresik. Banyak timbalnya. Gak baik."
"Ooooh gitu. Baik, dok!"
Kira-kira seperti itulah gambaran percakapan kami saat itu.

Awal-awal hamil, masih sanggup main ke pantai


Di tengah masa LDR yang cukup melelahkan, kehamilan bisa menjadi sebuah beban, atau justru sebuah alasan untuk tumbuh menjadi pasangan yang semakin kuat dan berbahagia. Saya memilih opsi kedua. Cara saya dan suami menghadapi tantangan ini adalah dengan berkomunikasi secara intens, kecuali saat bekerja, tentu saja. Setiap malam kami berbicara melalui telepon dan seringkali melakukan panggilan video. Jadi, suami bisa melihat perkembangan perut saya yang kian membesar, melihat bagaimana bayi kami begitu aktif ketika sang ayah mengajaknya berbicara. Sungguh membahagiakan!

Selain itu, kami juga selalu berusaha untuk bertemu setiap minggu. Jikalau salah satu dari kami memiliki agenda yang tidak dapat ditolerir seperti acara kantor, misalnya, maka kami akan bertemu di minggu berikutnya. Akhir pekan adalah waktu yang kami tunggu-tunggu, karena kami akan bertemu. Terkadang, suami mengunjungi saya ke Surabaya tapi terkadang saya yang mengunjungi suami ke Malang. Terkadang, suami menjemput saya, tetapi terkadang saya berangkat menemuinya dengan menggunakan transportasi umum.

Hal tersebut ternyata menimbulkan kasak-kusuk dari beberapa teman saya. Banyak yang menganggap suami saya tidak perhatian, karena saya harus naik bis sendiri dalam keadaan hamil. Bukan itu saja, mereka juga membandingkan bagaimana kekasih atau suaminya memperlakukannya. “Kalau dia nggak akan ngebiarin aku berangkat sendirian, padahal kami masih pacaran lho. Kok suamimu gitu, ya?” begitulah pertanyaan yang pernah saya dapat. Nggak pengin menimbulkan konflik, saya pun menjawab santai “Ya itulah bedanya pacarmu sama suamiku, suamiku membiarkan aku mandiri dan pacarmu nggak kepengen kamu susah.” Padahal, dalam hati saya kesel banget.
Saya memang terbiasa dari kecil mengurus keperluan saya sendiri. Saat SD saya sudah biasa naik transportasi umum sendirian ke rumah tante di Surabaya. Mendaftar SMP, SMA, dan kuliah pun saya berangkat sendiri. Kecuali saat kuliah, mama saya bersikeras mengantar saya walau saya saat itu bersikeras berangkat sendiri juga. Saat berkuliah di Malang pun, saya biasa tuh naik motor dari Gresik-Malang-Gresik sendiri. 

Jadi, karena terbiasa itulah saya nggak kepengen memanjakan diri saya karena saya tahu saya bisa melakukannya sendiri. Sometimes hal kaya gini bisa jadi turn off buat para laki-laki tapi tidak dengan suamiku. Dia paham betul saya seperti apa sehingga dia membiarkan saya mandiri tapi tetap dalam pantauannya. Selain itu, saya ingin percaya bahwa saat hamil pun saya bisa mandiri dan membiasakan anak saya untuk mandiri sejak di dalam kandungan. Entah pikiran tersebut datang dari mana, tetapi saya percaya apa yang saya lakukan sejak hamil memengaruhi sikap anak saya saat dia telah lahir. Begitulah, anak saya sekarang tumbuh menjadi anak yang nggak rewel kok diajak naik transportasi umum sekalipun.

Semakin perut saya membesar, rasanya semakin sesak. Nafas terengah-engah, tidur nggak bisa enak, tapi sungguh saya menikmatinya. Kalau ditanya, mau hamil lagi nggak? Saya pasti akan jawab: MAU. Tapi nggak sekarang, nunggu si sulung 5 tahun lah ya baru mau hamil lagi. Hehe. Memang, hamil itu perjuangan banget. Ada beberapa orang yang sampe harus bedrest, ada yang selalu muntah tiap pagi, dan lain-lain. Tapi, beruntungnya, saat hamil ini saya masih aktif mau ngapa-ngapain walaupun sering juga jatuh sakit seperti flu, pusing parah setelah berkali-kali mimisan, daaaan...terkena cacar di usia kehamilan 8 bulan! Wuaaah.....


Usia kehamilan 6 bulan, udah kaya 8 bulan aja

Pengalaman cacar tersebut bener-bener di luar dugaan. Karena, saya sudah mengalami cacar saat saya masih kecil. Tapi, memang keadaannya saat itu di rumah ada yang sedang cacar, jadilah saya yang imunitasnya menurun ini ketularan juga. Dan ngga tanggung-tanggung, cacar yang saya alami muncul dari kulit kepala hingga ujung kaki! Beberapa bekasnya juga nggak hilang sampai sekarang. Pokoknya luar biasa deh. Gatal, nyeri, pokoknya amat sangat mengganggu. Sampai akhirnya, saya cuti melahirkan 2 minggu lebih awal dan langsung 'diangkut' suami ke Malang. Cacar sih, tapi kok bahagia ya :D

Usia kehamilan 8 bulan, sebelum cuti melahirkan

Sudah cuti, reunited with my bestfriends~

Sampai akhirnyaaa, pada akhir Maret 2018 lalu lahirlah putra pertama kami yang kami panggil 'Ale'. Makhluk kecil, miniatur saya, yang bener-bener saya dan suami cintai karena begitu lucu, polos, dan menggemaskan. Rasanya nggak ada duanya deh pokoknya :D

You May Also Like

0 komentar