My New Life As a Mom

by - Maret 05, 2019

Kata orang, menjadi Ibu itu seru. Kata orang, menjadi Ibu itu melelahkan. Kata orang juga, sejak jadi Ibu banyak hal yang berubah. Mulai dari preferensi makan, jam tidur, preferensi barang belanjaan, dan masih banyak lagi. Masih kata orang juga, si Ayah bakal jadi nomor dua setelah tergeser oleh anak yang menduduki peringkat pertama daftar prioritas Ibu. Tapiii, bener begitu nggak sih?
Kalau kata saya nih, menjadi Ibu bagai terlahir jadi pribadi yang baru. Jadi, kemarin waktu lahiran bukan si bayi aja yang lahir, tapi saya juga. Bedanya, saya nggak nangis oek-oek, cuma nangis haru aja diem-dieman, yang denger juga cuma suami. Namanya “terlahir jadi pribadi yang baru” tentu saja ada beberapa hal yang berubah dari diri saya yang sebelumnya. Bukan hanya tentang sifat saja namun juga sikap.

***

Saya dulu orangnya sangat nggak sabaran. Sejak punya anak, yah, lumayan berkurang walau masih agak nggak sabaran juga kadang-kadang. Saya dulu suka banget belanja barang fashion sama make up. Sekarang, baju baru? Apa itu? Yang ada, baju bayi baru, buku bayi baru, mainan bayi baru. Gitu. Kalau dulu saya di rumah aja selalu pakai bedak dan lipbalm sehabis mandi, sekarang, ya ampuuun bisa mandi aja puji Tuhan! Resmilah saya jadi “mak-mak berdaster” tiap harinya.

Source: pexels.com


Walaupun sudah banyak hal yang berubah, namun Clara bukan Clara namanya kalau nggak impulsif. Dan hal ini kadang-kadang membawa Clara pada kemalangan tapi kadang-kadang juga keuntungan. Ceritanya, saya memang sudah memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga aja, atau bahasa hits-nya sekarang “full time mom.” Namun, pada kenyataannya, saya sekarang menjadi “working mom.” Kok bisa? Ya karena….impulsif! Saat cuti melahirkan kemarin, saya memang sekalian resign dari tempat kerja yang lama karena pindah domisili ke luar kota. Namun, di tengah-tengah masa tidak bekerja yang sungguh indah itu, entah kenapa ada teman yang membagikan info lowongan pekerjaan melalui WhatsApp messenger. Jadi guru Bahasa Inggris. Di Malang. “Wah, boleh juga nih,” pikir saya kala itu. Dan karena sekarang teknologi udah makin canggih sampai-sampai semua file penting saya ada di “awan” alias cloud drive, saya saat itu tinggal kirim-kirim e-mail saja, ya apalagi kalau nggak melamar pekerjaan guru di Malang itu! Nggak bilang suami, lagi. Salah besar saya.

Malangnya, atau untungnya, lamaran pekerjaan saya di-follow up. Dan mau nggak mau saya harus bilang suami. Eh, dia iya iya aja nggak marah. Cuma, dia bertanya satu hal pada saya, “Kamu yakin?” Ini pertanyaan susah banget ya jawabnya. Satu pertanyaan tapi sebenernya kumpulan dari berbagai macam pertanyaan seperti “ntar Ale gimana”, “kamu bisa manage waktu nggak”, “udah siap ngajar lagi belum”, “kenapa mau kerja”, “apa yang dicari”, dan lain sebagainya. Konyolnya, dengan impulsif (lagi) saya menjawab “Yakin.” Titik. Daaaan, suami saya menjawab “Ya sudah kalau kamu yakin. Datang aja dulu,” Singkat cerita, akhirnya saya menjadi guru part-time yang hanya datang saat mengajar. Jadi, nggak full satu minggu harus datang, melainkan hanya tiga hari saja.

Selama tiga hari tersebut, saya selalu bangun pukul 4 pagi, mandi, (di awal-awal saya menyiapkan bekal saya dan suami, namun sekarang sudah tidak, karena ternyata sungguh melelahkan), lalu menyiapkan barang-barang anak yang akan dibawa ke Pakde dan Bude saya atau Opa dan Omanya Ale. Lalu pukul setengah 6 saya sudah harus berangkat ke sekolah karena sekolah tempat saya mengajar sangat jauh dari rumah, dan saya masuk pukul 6:27. Selesai sekolah, masih ada pelajaran tambahan sehingga saya baru caw pulang dari sekolah sekitar jam setengah empat dan sampai rumah sekitar jam setengah lima sore. Hampir 12 jam, ya? Lalu selesai berperan menjadi guru, saya berperan menjadi istri dan ibu di rumah. Beres-beres rumah, mandiin Ale (saya mandi juga barengan), cuci piring sisa pagi yang tidak pernah sempat dicuci, dan masak untuk makan malam. Begitu selama tiga hari setiap minggunya. Dan rasanya sungguh melelahkan, inside out.

Jarak tempuh yang terlalu jauh, rasa rindu kepada anak, dan segala tetek bengek kepikiran anak yang nggak kunjung selesai, bikin bekerja jadi terasa penuh beban. Ada penyesalan dalam benak saya meninggalkan anak yang masih kecil untuk bekerja, yang saya juga nggak tahu untuk apa. Mungkin orang bisa berkata bahwa wanita harus bekerja untuk jaga-jaga, atau untuk bisa mandiri. Saya setuju, hanya mungkin bukan sekarang waktunya. Dan kalaupun tujuannya untuk “mencari uang” mungkin saya akan memilih untuk melakukannya dari rumah saja, tanpa harus meninggalkan anak. Karena, anak saya selucu, seimut, semenggemaskan, sengangenin itu untuk ditinggal kerja. Halah, lebay. Ya gimana? Kan nggak ada kecap nomor dua?

Dari situ saya belajar, bahwa hidup baru sebagai Ibu tidak melulu indah, tidak melulu tentang menjadi pribadi yang lebih baik. In my case, somehow I feel that I failed. For not being able to prepare my husband’s lunchbox every day, for not being able to finish all household things in a day, for not being able to be by my baby’s side every time, for not being able to see every milestone my baby makes each day, for not being perfect. Tapi satu hal yang suami saya selalu bilang ke saya despite everything, “You have done enough, Bun. And I’m thankful for it.” Hampir setiap hari suami saya berterima kasih ke saya, and it means a lot to me.  Literally.

My new life as a mom memang saya sibukkan untuk meratapi ketidakmampuan saya menjadi Ibu yang baik. Banyak hal berubah dan saya ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang banyak Ibu baru untuk beradaptasi dengan banyak perubahan tersebut. Yes, I am suck at it. All I think about is my family, dan ketakutan terbesar saya adalah tidak memberikan yang terbaik bagi mereka.
Banyak yang masih harus saya benahi sebagai seorang Ibu dan Istri, dan sejauh ini saya menikmati segala prosesnya. Meskipun tidak sempurna, saya seorang Ibu yang bahagia kok! 

Dan, highlight dari tulisan saya kali ini adalah, bahwa nggak ada Ibu yang sempurna jika dibandingkan dengan Ibu-ibu yang lainnya. Tetapi percayalah, you're just perfectly enough for your family, Bu.. Dengan menyadari dan merangkul perasaan tersebut, harapannya saya dan Ibu-ibu lainnya bisa memahami bahwa dengan merasa bahagia karena hal sederhana seperti bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarga itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang ibu yang baik. Hal tersebut seperti bahan bakar kita para Ibu untuk terus mencurahkan energi positif dalam apapun yang kita lakukan. Jadi, semoga para Ibu di dunia ini selalu berbahagia ya! Karena Ibu adalah poros yang harus selalu kuat meskipun diterjang badai sekencang apapun. 


XOXO,
Clara

You May Also Like

2 komentar